Iklan

Sejak Yenny Wahid Jadi Komisaris, Utang Garuda Indonesia (GIAA) Bertambah Rp50 Triliun

ADMIN
Jumat, 04 Juni 2021, 11.20 WIB Last Updated 2021-06-04T04:20:13Z

Kompaz Indonesia - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menjadi salah satu industri penerbangan yang terdampak pandemi Covid-19 dengan utang dilaporkan mencapai Rp70 triliun.

Maskapai penerbangan pelat merah ini tengah diuji dengan kondisi keuangan yang tidak sehat.


Utang sebesar Rp70 triliun ini sebelumnya diungkap Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, menurut laporan Bloomberg.


Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid selaku Komisaris Independen Garuda Indonesia dalam akun Twitternya menanggapi besaran utang maskapai pelat merah itu.


Yenny Wahid diketahui telah menjabat sebagai posisi itu sejak Januari tahun 2020 lalu.


Dia menyebut sejak menjabat utang Garuda sudah ada lebih dari Rp20 triliun. Artinya dalam setahun, utang Garuda bertambah 50 triliun.



"Doakan ya. Waktu saya masuk, hutang Garuda sudah lebih dari 20 T, lalu kena pandemi, setiap terbang pasti rugi besar. Demi penumpang, kami terapkan social distancing meskipun biaya kami jd 2xlipat dengan revenue turun 90%.  Sdh jatuh tertimpa tangga," tulis Yenny Wahid di akun Twitternya pada Minggu 29 Mei 2021.


Dia menambahkan yang paling utama besaran utang itu adalah debt restructuring dan cost restructuring.


"Yang paling utama adalah debt restructuring & cost restructuring. Didalamnya termasuk renegosiasi leasing contract. Kita juga sedang fight utk kembalikan pesawat yang tdk terpakai mengingat di masa pandemi utilisasi menurun drastis," tulisnya.


Yenny Wahid bahkan mengaku dirinya selaku komisaris selalu membayar tiket jika terbang dengan Garuda.


"Kalau skrg, komisaris pun harus bayar. Sy bolak balik naik Garuda dan selalu membayar.  Jadi kalau ada yg minta tiket gratis ke saya, terpaksa tidak bisa saya kabulkan," tambahnya.


Dalam balasan pertanyaan dari pengguna lain, Yenny Wahid mengatakan saat ini layanan kargo Garuda digenjot dan hasilnya pendapatan meningkat melebihi target.


Namun, dia menyebut pendapatan kargo itu belum mampu menutupi semua kerugian Garuda.


Mengutip Bloomberg, Irfan Setiaputra mengatakan Garuda berutang sebesar 4,9 miliar dollar AS.


Parahnya, nilai utang itu akan bertambah setiap bulannya sekitar Rp1 triliun lantaran terus menunda pembayaran kepada pemasok.


Dia mengatakan, perusahaan memiliki arus kas negatif dan utang minus Rp41 triliun.


"Bisa mengakibatkan perusahaan dihentikan secara tiba-tiba," kata Irfan seperti dilansir Bloomberg pada Minggu, 23 Mei 2021.


Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan Garuda Indonesia akan fokus pada bisnis penerbangan domestik dengan melayani perjalanan masyarakat antarpulau di Tanah Air.


"Indonesia ini negara kepulauan, jadi tidak mungkin orang Indonesia menuju pulau lain pakai kereta, pilihannya ada dua yaitu kapal laut atau penerbangan. Garuda dan Citilink akan fokus kepada pasar domestik, bukan pasar internasional," kata Menteri Erick Thohir di Jakarta, pada Rabu, 2 Juni 2021, dikutip dari Antara.


Menurutnya, pembicaraan terkait perubahan bisnis Garuda Indonesia ke pasar domestik telah dilakukan pada November 2019 hingga Januari 2020, sebelum adanya pandemi.


"Sebelum Covid sebanyak 78 persen turis adalah turis lokal sebanyak Rp1.400 triliun, turis asing hanya 22 persen Rp300 triliun," kata Erick Thohir.


Aksi yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan upaya untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari masalah finansial akibat kerugian yang dialami perseroan.***


Kamu bingung website ini sama seperti kompas.com, website ini bertujuan juga untuk membuat artikel Berita harian, jika kamu masih Bingung? Kenapa website ini sama ya, sudah di verifikasi oleh google jika website ini aman untuk di beritakan, yuk support website berita kami.

Komentar

Tampilkan